Masa Akhir Seni Modern dan Sekilas Tentang Gejala Postmodernisme

Friday, May 13, 2016 : 9:54:00 AM

Pada bagian akhir pembahasan seni rupa modern Barat sangat perlu untuk dijelaskan sekilas tentang pengaruh dan gejala postmodern dalam perkembangan seni rupa Barat. Walaupun untuk membahasnya memerlukan berbagai contoh kekaryaan seni rupa yang telah dan sedang dilakukan para seniman. Hal ini hanyalah sebuah penafsiran dan analisis yang tidak mendalam, tetapi paling tidak akan bisa menjembatani istilah postmodern dengan suatu kecenderungan kreativitas seniman yang terjadi dalam zamannya.

Sebelum menguraikan gejala Postmodernisme dalam seni rupa, tentunya kita harus memahami terlebih dahulu definisi mula yang dikemukakan Charles Jencks pada bidang arsitektur. Pada mulanya kata Postmodern diungkapkan secara sementara sebagai suatu istilah untuk menggambarkan sesuatu yang telah ditinggalkan (yaitu modernisme). Seperti kenyataan terlihat pada karya arsitektur Ralph Erskine, Robert Venturi, Lucien Kroll, Krier Bersaudara, dan Kelompok Sepuluh. Mereka, menurut Jencks telah meninggalkan Modernisme dan memulai arah baru dengan tetap meninggalkan asal-usul mereka bersama. Pada tahun 1978, Jencks akhirnya merumuskan Postmodernisme sebagai faham yang berdasarkan konsep azas ganda (double coding), yaitu gabungan teknik-teknik modern dengan hal-hal lain (biasanya dengan bangunan tradisional) agar arsitektur dapat berhubungan dengan masyarakat dan memperdulikan kaum minoritas, yang dalam hal ini adalah arsitek lain. Pengertian azas ganda ini muncul karena faham ini memiliki dua makna.

Arsitektur modern tidak lagi dipercaya, karena dasar pengertian bentuknya sulit dimengerti oleh pemakainya, dan sebagian lagi tidak menghubungkan bentuk bangunan di kota dengan sejarah kota itu sendiri. Arsitektur Postmodern merupakan pemecahannya yang berrdasar pada keahlian dan disukai. Atau teknik yang berdasar pada teknik-teknik baru dan pola-pola lama. Azas ganda bertujuan untuk menyederhanakan pengertian elite/digemari dan baru/lama, dan ada alasan yang memaksa perlunya pasangan-pasangan yang berlawanan tersebut. Para arsitek Postmodern kini dilatih oleh arsitek Modern, dan mereka diwajibkan untuk menggunakan teknologi tersebut dan menghadapi kenyataan sosial saat ini. Pada bagian lain Charles Jencks menambahkan bahwa dua azas yang berbeda dalam Postmodern ialah kelanjutan Modernisme dan pelampauannya. Gejala Postmodernisme ini tumbuh sebenarnya bisa merupakan suatu reaksi terhadap kegagalan Modernisme. Misalnya dalam bidang arsitektur. Di tahun 1968, pemukiman bangunan tinggi di Inggris, Ronan Point, menderita runtuh total, akibat suatu ledakan. Di tahun 1972 banyak kumpulan gedung duiledakkan di Pruitt-Igoe di St. Louis. Di tahun 1970-an ledakan-ledakan ini jadi cara yang terus-menerus dipakai untuk mengatasi kesalahan metode bangunan Modernis: pemakaian bangunan siap pasang yang murah, ruangan pribadi yang murah, ruangan pribadi yang tersisa berkurang, dan daerah perumahan jadi terasa asing.

Di dunia Barat, Modernisme telah diserang dari berbagai kelompok. Penyerangan itu dapat dibedakan dari tiga sudut pandangan yaitu berasal dari kekelompok filosof, ahli ilmu sosial, dan kritisi seni. Kelompok pertama yang terdiri darei pemikir Perancis Jacques Derrida, Michel Foucault, Francois Lyotard, Jacques Lacan dan Deleuze menyerang proyek kemodernan. Menuru mereka, Modernisme dalam kehidupan yang telah memiliki pandangan universal yang menyeluruh, tungggal dan mencakup, ternyata banyak mengalami kegagalan. Kegagalan itu terbukti adanya dua kali perang dunia, kerusakan lingkungan, masalah kemiskinan yang terus berlanjut, dan adanya ketidakadilan yang masih dirasakan. Proyek kemodernan yang dirumuskan oleh para pemikir pencerahan itu terdiri dari usaha mereka untuk mengembangkan ilmu yang obyektif, moralitas, dan hukum universal, serta seni yang otonom. Proyek untuk itu telah dilakukan di belahan dunia Barat, Asia, Amerika Latin dan Afrika. Namun apa kenyataan dari proyek kemodernan itu ternyata hanyalah janji-jani kaum Pencerahan yang tidak dapat ditepati. Akhirnya kelompok filosof Perancis yang diberi sebutan Poststrukturalis dan akhir-akhir ini sering disebut pemikir Postmodern mengajukan gugatan, menentang pandangan dunia universal yang menyeluruh dan tunggal.

Kelompok lainnya muncul dari ahli teori sosial, seperi Daniel Bell, Alain Touraine, Jean Baudrillard, yang mengidentifikasi tentang kemunculan jenis masyarakat baru di Barat yaitu yang diberi sebutan masyarakat postindustri, masyarakat konsumer, masyarakat informasi, masyarakat postmarxist, dan masyarakat postmodern. Jenis masyarakat baru ini dalam strukturnya tidak lagi bertumpu pada industri yang padat teknologi, tapi pada ekonomi pelayanan yang bertumpu pada ilmu pengetahuan teoritis dan informasi.

Kelompok ketiga yang melakukan bantahan dan serangan terhadap Modernisme berasal dari kritikus, penulis seni, dan seniman. Dari awal mereka sudah menggunakan istilah Postmodernisme dan secara khusus menyatakan diri sebagai penggagas dan pelaksana proyek kultural yang ingin menggantikan Modernisme. Di dunia seni, konsep Modernisme ini telah terbangun dengan kokoh dan selama satu abad lebih sejak kemunculannya di sekitar tiga dekade menjelang abad ke-20, ia telah mengukuhkan diri sebagai konvensi yang telah melembaga di setiap segi dunia seni. Nilai-nilai modernisme itu dapat ditemukan di pusar-pusat lembaga pendidikan dan universitas, di musium terkemuka seperti MOMA (Museum of Modern Art), di kolom-kolom tulisan kritikus, di benak seniman, art dealer,, kolektor, dan buku-buku sejarah seni modern.

Modernisme meyakini prinsip kemajuan, dan karena sangat memengutamakan norma-norma kebaruan, keaslian, dan kreativitas. Prinsip itu melahirkan apa yang disebut sebagai tradition of the new atau tradisi avant-garde, suatu pola lahirnya gaya seni baru melalui penemuan atau pengenalan hal-hal baru, asing, belum dikenakl dan oleh karena itu pada awalnya ditolak sebelum kemudian diterima oleh masyarakat seni sebagai inovasi terbaru. Tradisi avant-garde ini melembaga dan bertanggung jawab atas lahirnya berbagai eksperimen seniman dekade tahun 60-an, dan 70-an yang melahirkan seni multimedia (mixed media, intermedia), happening, performance, seni video, instalasi, dan sebagainya. Modernisme membedakan secara tegas antara seni tinggi dan seni rendah. Kepercayaan pada universalitas nilai estetik dan fanatik pada penggunaan ilmu dan teknologi juga merupakan penonjolan ciri Modernisme.

Secara lebih mudah, dapat dipahami melalui gejala kekaryaan seni rupa Postmodernisme, bahwa gejala tersebut merambah pada kreativitas seniman dalam melahirkan karya seni rupa yang melahirkan karya yang memperlihatkan beberapa kecenderungan. Beberapa kecenderungan ini bukanlah sebagai ciri atau karakteristik yang standar dari seni rupa Postmodernisme, tetapi lebih tampak sebagai suatu gejala pada umumnya. Gejala kekaryaan tersebut misalnya:

a. Dalam karya seni rupa tampak tidak memperdulikan lagi persoalan isme-isme dalam aliran Modernisme sebelumnya.
b. Kreativitas tidak diartikan mencari yang orisinal dari proses penggalian yang progresif, tetapi pencarian jati diri (identitas) yang lama. Identitas lama maksudnya yang merupakan latar budaya (basic culture) atau tradisi-tradisi etnik, religi, atau nilai-nilai spiritual (yang berlawanan dengan nilai rasionalnya Modernisme).
c. Penggalian konsep-konsep yang kuno atau shock of the old dari Mariani (pelukis Italia yang menggali tema mitologi Yunani) ini untuk melawan semboyan kaum Modernis shock of the new Marchel Duchamp.
d. Obsesi pembaruan kaum Modernis yang menuntut inovasi terus-menerus berbeda dengan kaum Postmodernis yang memperkenal prinsip-prinsip eklektik. Jika dekade 60-an dan 70-an dunia seni kontemporer dipenuhi inovasi yang gencar: happening, performance, instalasi, maka pada dekade 80-an para seniman kembali melukis tema-tema naratif. Charles Jencks dalam karya terbarunya Postmodernism, The New Classicism in Art and Architecture, 1987, menyatakan bangkitnya kepekaan klasik di bidang seni rupa dan arsitektur. Di bidang seni, Jencks mengklasifikasikan lima gaya klasik yaitu Metaphysical Classicism, Narrative Classicism, Allegorical Classicism, Realist Classicism, dan The Classical Sensibility. Klasisisme Postmodern ini dinyatakan sebagai fase terbaru setelah fase 60-an dan 70-an.
e. Postmodernisme menghilangkan batas seni tinggi dan seni rendah. Tampaknya sudah tidak ada batas yang tegas dalam berbagai klasifikasi seni.
f. Postmodernisme menolak konvensi seni modern, anti kemapanan. Rosalind Krauss berpendapat bahwa penolakan itu didasari oleh ketidaksetujuan para seniman terhadap pranata seni modern yang memperlakukan seni sebagai obyek dan komoditi. Oleh karena itu seniman banyak membuat karya yang tidak memungkinkan subordinasi seni di bawah kepentingan museum atau galeri, yaitu berupa karya bongkar-pasang yang diabadikan melalui foto seperti Running Fence Christo, Spiral Jetty (1970) Smithson dan Double Negative (1969) Heizer yang berupa galian tanah yang besar.

Bagi Jencks, kategori Krauss tersebut tidak tepat karena para seniman masuk ke dalam masa Late Modern atau modern akhir. Maka dapat dipahami jika idiom seni instalasi dalam Postmodernisme bukanlah idiom yang dominan, karena idiom instalasi masih ada kedekatan dengan prinsip shock of the new modernisme.

Saat ini 0 comments :