Mengenal Konsep Pop Art

Saturday, April 30, 2016 : 2:26:00 PM

Kehadiran gerakan Pop Art pada awal 1960-an di Amerika dan Inggris boleh dikatakan sebagai reaksi terhadap ekspresionisme abstrak, dengan tujuan untuk memberikan alternatif, dengan cara melepaskan segala unsur yang berlebihan dan pergumulan perasaan pribadi. Gerakan ini juga mengubah sikap pasif terhadap jiwa menjadi sikap pasif terhadap kenyataan yang ada dalam lingkungannya.

Beberapa gerakan yang juga melatarbelakangi kelahiran ide seni yaitu gerakan Dada, dengan tokohnya Duchamp dan Kurt Schwitzers. Schwitzers banyak menampilkan karya dengan potongan benda yang ditempelkan. Teknik kolase menjadi interest baru yang mengilhami ide kebentukan Pop Art. Gerakan lain yang mempengaruhi Pop Art adalah Futurisme. Hal ini tercetus dari ucapan Marinetti, seorang penulis naskah drama, novelis dan penyair, yang mengatakan bahwa kebebasan berproses tidak berakhir dari penggambaran Madonna dan Penyaliban.

Dia berpendapat, sesuatu yang baru, baik motor yang gemuruh maupun senapan mesin adalah lebih indah daripada kemenangan yang bersayap di Samothrace. Hal serupa juga bisa kita telaah dari ucapan Kaprow, salah seorang pelopor Happening. Dia tidaklah bermasud mempergunakan sensasi dari suatu benda tetapi pakailah benda itu sendiri, Kemudian, Kita hendaknya mempergunakan benda hidup kita dengan spesifik.”

Seni Pop hadir untuk menunjukkan seni populer yang gagasannya bersumber dari kebudayaan massa (mass culture), memuliakan kemakmuran rakyat, konsumen, dan bintang-bintang dari budaya super hero. Coraknya berasal dari perkembangan dan kemajuan teknik komunikasi massa seperti : fotografi komersial, periklanan, barang keperluan sehari-hari, desain mobil, teknik cetak saring. Pop Art sebelum tahun 1960-an banyak menggunakan barang-barang bekas. Setelah itu penuangan imajinasi berubah cerah, gemerlap dan beraneka ragam sebagai simbol utama dari kemakmuran. Para seniman Pop mengetengahkan citra seni mereka pada benda pakai sehari-hari yang sering tampil dalam lingkungannya.

Sikap ini beralasan dengan kondisi lingkungan siap pakai yang memberikan segala kemudahan. Para seniman mempunyai kepentingan profesi terhadap realitas, dan mereka mengungkapkannya ke dalam bentuk karya dengan berbagai subyek. Cara penggarapannya dianggap sebagai suatu metoda yang non-konvensional pada waktu itu, berbeda dari sebelumnya dan kadang-kadang aneh. Mereka bermaksud menelanjangi realitas secara obyektif dan dalam usaha untuk menemukan manfaat dari dunia moderen. Setiap saat lingkungan masyarakat Amerika memberikan ilham dan gagasan bagi para seniman.

Corak Pop Art ditandai dengan penggambaran suatu tujuan serta memberikan kesan dalam penggarapannya dengan memakai bantuan teknologi. Subyeknya tidak mengutamakan penggambaran karakter dan melepaskan diri dari pertimbangan moral. Ada kecenderungan untuk melakukan pengulangan-pengulangan untuk diproduksi secara massal. Ada perbedaan latar belakang Pop Art di Amerika dan di Inggris. Dalam perkembangannya seni Pop di Inggris bisa terbagi menjadi dua fase.

Di Inggris istilah Pop mulai sering terdengar dan dikenal setelah diadakan diskusidiskusi rutin dan penulisan tentang kritik oleh anggota-anggota independent group yang dimulai tahun 1957. Dari pembicaraan dan diskusi dari mahasiswa Royal College of Art di London serta para mahasiswa Institute Contemporary Art. Kemudian seniman arsitek, penulis menjadi tertarik untuk ikut serta, hal ini terjadi pada tahun 1952-1953. Topik pembicaraan berkisar pada masalah budaya dan masyarakat, bahwa seniman hendaknya mendekatkan diri dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Salah satu pernyataan penting adalah: Populer Culture hendaknya dipisahkan dari kegiatan hiburan dan refreshing.

Pop harus menjadi bentuk kesenian yang lebih khusus. Pada fase ini muncul seniman Richard Hamilton, dengan karyanya yang paling penting dibuat pada tahun 1956 berupa foto mural yang dipakai sebagai pelengkap salah satu pameran yang berjudul : Just why is it that make today so apealling. Karyanya ini dianggap sebagai pencetus ide Pop pertama. Keaktifan seniman fase kedua bermula dari pameran karya-karya mahasiswa Royal College of Art di London. Tercatat nama-nama Peter Blake, Robyn Denny dan Richardo Smith. Kemudian pameran pada tahun 1967 tampil nama-nama baru seperti Peter Philips, Derek Boshier, Allen Jones, David Hockney serta R.B. Kitaj, seorang mahasiswa asal Amerika Serikat.

Pada dasarnya seni Pop di Inggris tidak bisa dipisahkan dari pengaruh sistem budaya yang lain. Seusai perang dunia II barang-barang cetak seperti majalah serta reklame yang berasal dari Amerika Serikat membanjiri Inggris maupun negara Eropa lainnya. Pada waktu itu Eropa sangat serius memperhatikan gaya hidup orang Amerika, terutama semangatnya, kekayaannya serta kemajuannya yang pesat. Semua itu bertentangan dengan keadaan Eropa pada saat itu yang hancur akibat perang. Hal itu sebagai penyebab, mengapa seniman Eropa berkiblat ke Amerika (terutama New York sebagai pusat seni yang baru). Pop art di Inggris cenderung lebih kompleks dan seakan memberi warna nostalgia akan kerinduan masa lampau. Namun demikian Pop Art di Amerika dan Inggris tetap mengambil bagian dalam perkembangan industri.

Kesimpulan

Pada bagian akhir ini dapat disimpulkan tentang konsepsi para seniman Pop Art yang terkenal yang memiliki komitmen yang kuat terhadap karya yang dibuatnya.

Hamilton, menekankan konsep Pop Art pada: pencarian popularitas, pengungkapan hal-hal lalu (nostalgia), yang praktis (dapat dipergunakan), masuk akal (wit), seksi, kepalsuan, elok (glamour). Yang dicarinya adalah sesuatu yang murah harganya, sebagai hasil produksi massal, dan suatu usaha besar (bigbusiness). Sifat-sifat inilah yang dipuja seniman Pop Inggris. Tetapi dengan prioritas yang telah diperoleh Hamilton dengan kelompoknya, masih agak sulit untuk membuktikan bahwa Pop Art itu langsung dihasilkan oleh kegiatan mereka, sebab hanya Hamilton saja yang aktif sebagai pelukis Pop. Lagi pula tidak banyak karya yang dihasilkannya. Menurut Smith salah satu kelemahan seni Pop Inggris ialah mudahnya dan cepatnya sukses yang dicapai. Inggris dalam kesenirupaan akhirnya keluar dari isolasi selama ini (dalam seni sastra pengisolasian ini berlangsung lebih lama lagi). Sebabnya adalah sifat hedonisme yang telah tertanam sejak tahun 1950-an, dan seniman-seniman muda ingin keluar dari hal ini dan sesuai dengan masa itu.

Harol Rosenberg, seniman pembela utama dari gerakan Abstrak Ekspresionisme, mengemukakan pendapatnya mengenai gaya baru (Pop Art) ini sebagai berikut: Tentu saja Pop Art berhak disebut sebagai suatu gerakan yang dengan banyak pengikutnya, banyak tekanan imajinatifnya, dan kualitas pembicaraan yang menghidupkan gerakan itu. Tetapi jika Abstrak Ekspresionisme terlalu banyak kekuatannya untuk bisa berdiri, maka Pop agaknya sedikit sekali memiliki kekuatan itu. Kedangkalan yang dibawanya sejak ia dilahirkan sementara mempunyai keuntungan dalam membiarkan seniman-seniman mengeksploitir subyek-subyek yang dikenal banyak terbatas itu (dari serbet kecil sampai kartu daftar makanan sebuah dining club) menghasilkan suatu kualitas monoton yangh dapat menimbulkan perhatian dalam lelucon lain yang semacam ini pula untuk kemudian menghilang di dalam hati.

Abstrak Ekspresionisme masih tetap tinggi dalam kualitas, bermakna dan mampu menyajikan karya baru; ia mendorong seniman-seniman muda untuk berlomba dengan veteran Abstrak-Ekspresionisme dalam perlombaan „apa sesudah itu?‟ Oldenburg - seniman Pop yang berksperimen dengan efek-efek pemindahan, obyeknya terkatung-katung antara kenyataan patung dan kenyataan lukisan. Obyek-obyek ini terdiri dari benda-benda hamburger raksasa sampai ke modelmodel mesin cuci dan alat pengerok telur yang terbuat dari vinil yang berisi kapas.

Oldenburg berkata: Saya menggunakan imitasi yang naif. Ini bukan karena saya tidak mempunyai imajinasi atau karena saya ingin mengatakan sesuatu tentang dunia sehari-hari. Saya mengimitasi: obyek, dan obyek yang dibuat telah diciptakan, misalnya tanda-tanda, obyek yang dibuat tanpa maksud menjadikan seni dan secara naif membuat suatu magi masa kini yang berfungsi. Bahkan saya mencoba membawakan terus melalui kenaifan saya sendiri dalam arti yang tidak artifisial. Selanjutnya artinya, seranglah obyek-obyek itu secara lebih intensif lagi, kerjakan regerence obyek-obyek itu. Ini harus dimengerti. Saya mengimitasi obyek-obyek, suatu tujuan yang mendidik.

Lichtenstein, seniman Pop yang tidaklah menentang perkataan seni (khususnya Ekspresionisme Abstrak) seperti Oldenburg. Ia mengatakan misalnya yang dinamakan seni itu adalah persepsi yang teratur. Selanjutnya dia mengatakan kepada orang yang mewawancarainya sebagai berikut: Saya rasa karya saya berbeda dengan cerita komik. Karya saya bukanlah suatu transformasi Apa yang saya lakukan adalah membuat form. Sedangkan cerita komik tidaklah dibentuk menurut pengertian saya ini. Komik itu mempunyai raut-raut (shapes), tetapi tidak ada usaha untuk menyatukan bentuk-bentuk itu secara intensif. Tujuannya juga berbeda, orang bermaksud menggambarkan (to depict) dan saya bermaksud menyatukannya. Dan sebenarnya perbedaan karyaku dengan komik strip ialah bahwa pada karyaku setiap tanda benar-benar terletak pada tempat yang berbeda, betapapun nampaknya bagi orang sedikit sekali perbedaannya dengan cerita/gambar komik.

Maksudnya adalah gambaran (imaji) itu sebagian merupakan startegi, suatu cara mengikatkan permukaan lukisan. Tujuan lain yang paling jelas dapat dilihat dalam serial „brushstrokes-nya‘, dalam bentuk teknik comic strip‟, yang teliti dan kaku yang oleh seniman Ekspresionisme Abstrak mungkin dikerjakan dengan satu kali sapuan kuas.

Apa yang diungkapkan Roy Lichtenstein adalah sifat khas dari media grafis, yang berhubungan dengan teknik cetak, yaitu sifat mekanis pada gambar. Karena itu karya Lichtenstein mengingatkan kita pada gambar heraldik, dan sebenarnya tidak mirip lukisan. Karya yang berdasarkan atas motif komik itu ternyata dilukis dengan kuas, sebagai imitasi akan suatu gambar yang sebetulnya disiapkan untuk dicetak. Segala jejak yang berkesan sentuhan tangan‘ dihindarkan. Perpaduan antara teknik gambar dan teknik melukis tampak sangat kuat, dan adalah tipikal untuk sebagian besar dari karya Lichtenstein. Tetapi ciri itu pasti hilang sama sekali dalam reproduksi, bila dicetak untuk buku atau majalah.

Baca Juga:
Faktor- faktor yang dapat membedakan karya Lichtenstein dengan bahan mentahnya, komik‘: Bahan mengalami perubahan hanya karena perbesarann yang berlipat ganda. Segala isi yang kehilangan makna pentingnya; ketepatan dalam cara memilih hanya suatu detail tertentu saja dari bahan dasar tersebut, serta kepastian dalam komposisi; kemudian diskrepansi antara bahan dasar yang bersifat grafis dan teknik melukis. Dia sebenarnya berupaya menghindarkan sekecil mungkin adanya transformasi komik ke lukisan. Lichtensteiin menegaskan perbedaan komik dan karyanya, the purpose is different. Comic intend to depict, and I intend to unify. Yang menarik bagi Lichtenstein adalah komik sebagai suatu cara melukis yang khas. Selain komik sebagai sumbernya, dia sering menggunakan contoh lukisan moderen, misalnya karya Monet, Cathedral in Rouen‟.

Andy Warhol, dalam berkarya bersikap seperti manajer perusahaan, dan menganggap studionya sendiri sebagai pabrik. Dia berkeyakinan bahwa cara melukisnya memiliki potensi untuk diperdagangkan , dan dia melakukan bisnis itu. Oleh karena itu Andy dikenal sebagai pelopor reproduksi dengan teknik cetak saring. Dia mengerjakan banyak pesanan baik berupa poster atau ilustrasi dari media massa. Dia sering lupa waktu pada saat sedang berkarya, dan dirinya dianggap sebagai mesin. Dalam karyanya, baik grafis cetak saring, lukisan cat minyak, maupun karya tiga dimensinya, tampak mencerminkan pengulanganpengulangan elemen rupa yang bersifat mekanis. Proses penciptaan karyanya mirip dengan proses produksi suatu barang industri. Andy juga mengatakan bahwa telah menjadi keinginannya agar semua orang kelak akan menjadi sebuah mesin.

Warhol sebagai seniman yang banyak menggarap film (bioskop). Karya filmnya banyak dinilai sebagai karya kreatif yang cukup termashur. Kolaborasinya dengan seniman lain, membuat karya eksperimentalnya semakin dipertimbangkan oleh masyarakat seni.

Saat ini 0 comments :