Cara Menyungging Wayang Kulit Yang Baik

Saturday, March 19, 2016 : 9:22:00 PM

Cara menyungging Wayang Kulit Amerna yang dimaksudkan adalah menerapkan warna pada bidang-bidang sungging wayang kulit terutama pada busana wayang tersebut, seperti pada jamong, makutho, sitmping, uncal, praba, sembuliyan, dodot (jarik), sender, gelapan, kelatbau, gelang, dan sebagainya, dengan menerapkan unsur sungging sesuai dengan aturan yang berlaku dalam menyungging wayang.

Misalnya untuk menyungging bagian sembuliyan disungging dengan tlacapan, keongan, atau sawutan, sonder dan tali praba dengan unsur sungging bludiran, bagian celana menggunakan sunggin cinden, sedangkan dodot atau kampuh disungging dengan motif-motif kain seperti parang, semen, atau kawung dan seterusnya. Penerapan warna itu dengan menggunakan sistem gradasi (Sunarto, 1997 : 164).

Kegiatan memo dimulai dari bagian rambut untuk warna hitam yang disebut dengan nyemeng. Selanjutnya dilakukan dengan mutihi atau menerapkan warna putih, jika wayang kulit itu disungging dengan prada, maka warna kuning emas itu dilakukan setelah penerapan warna putih selesai, terutama pada bagaian-bagian busana selain btudiran. Namun bila sunggingan itu bukan prada maka wama kuning emas broms itu dilakukan setelah pewamaan atau memo selesai seluruhnya.

Kegiatan selanjutnya adalah amepesi, yaitu membetulkan bagaian-bagian yang terkena prada dengan menggunakan wama putih, sehingga menjadi rapi. Kegiatan selanjutnya adalah menerapkan wama-wama muda, dan warna jambon untuk warna merah, hijau muda, kapurento, biru muda, mrunggen, dan sebagainya, yang dilanjutkan dengan anyepuhi yaitu menerapikan warna-warna yang lebih tua atau lebih gelap, misalnya wama merah dimulai dengan wama jambon (merah muda), jambon kemerahan, merah, merah agak hitam, dan coklat kehitaman (warna kethel).

Jika pewarnaan telah menyeluruh dan semua bagian sudah di wama dengan sistem gradasi, maka dilanjutkan dengan pembuatan motif dodot atau kampuh sesuai dengan karakter tokohnya. Bila tokoh itu gagah dibuat dengan motif parang rusak atau parang barong, jika tokohnya kecil dan halus dibuat dsngan motif klithik atau semen, tetapi bila itu tokoh punakawan dibuat dengan motif kawung, slobok, atau kambil secukil. Ada beberapa tokoh yang harus dibuat dengan motif poleng yaitu tokoh yang tergolong dalam wayang bayu, seperti Werkudara, Anoman, batara Bayu, dan sebagainya. Hal ini dilakukan berdasar strata sosial tokoh wayang dalam ceritanya dan menurut cerita tokoh-tokoh wayang yang telah ada dan menjadi bentuk tradisi dalam wayang kulit.

Jika kegiatan mewarnai (memo) sudah dianggap cukup, kegiatan selanjutnya adalah memteri isen-isen atau dekorasi pada bidang sungging yang telah di warna. Isen-isen itu antara lain berbentuk drenjeman, coven, dan waleran (bentuk isea-isen selain titik-titik dan guratan). Penerapan isen-isen ini pun berdasarkan kebiasaan ilalam tradisi sungging wayang kulit, misalnya isen-isen drenjeman diterapkan pada sumping, utah-utah, uncal dan sebagainya. Isen-isen yang berbentuk cawen diterapkan pada bagian sembuliyan, inten-intenan, sekar kathit, dan sebagainya., sedangkan untuk waleran umumnya diterapakan pada gelang, kelatbahu, tali praba dan sebagainya. Isen-isen ini merupakan dekorasi penghias pada bidang sungging yang membuat bagian itu semakin menarik dan semakin ngrumit.

Baca Juga: Cara Membuat Wayang Kulit dengan Tatahan

Kegiatan berikut adalah memberikan dekorasi pada busana wayang yang menggambarkan kain dengan sungging bludiran untuk bagian tali praba, dan badhong, sedangkan untuk bagian celana menggunakan cinden. Dalam hal penerapan cinden disesuaikan dengan bentuk motifnya, karena disini terdapat sedikitnya ada lima jenis bentuk cinden dengan keperuntukan yang berbeda-beda.

Ngraupi adalah kegiatan mewama pada bagian muka tokoh, jika wiima seluruh tubuh wayang itu berwana kuning emas disebut dengan gemblengan (brongsang), namun ada tokoh yang mukanya berwarna-warni. Warna pada tokoh ini umumnya tidak menggunakan sistem gradasi tetapi polos atau blok saja.

Pewarnaan muka wayang ini disesuaikan dengan karakter tokohnya. Misalnya untuk tokoh yang penakut dan cengeng umumnya pada bagian muka dibawama biru muda, untuk tokoh yang mudah marah umumnya dengan wama merah dan sebagainya. Untuk memperjelas karakter dan membuat tokoh wayang itu semakin hidup, dilakukan kegiatan ulat-ulatan yaitu membuat dekorasi yang berbentuk kumis, alis, simbar, penggambaran kuku, dan sebagainya. Jika kegiatan sungging ulat-ulatan ini selesai, kemudian dilakusan kegiatan mbanyu mangsi, yaitu menerapkan warna abu-abu pada bagian yang diuhit-ulati agar lebih tampak padat, seperti pada alis, kumis, simbar, jari-jari tangan dan kaki beserta kukunya, sampai disini kegiatan memo dianggap selesai.

Saat ini 0 comments :