Mengenal Seni Neoklasisisme dan Romantisisme

Friday, November 27, 2015 : 2:22:00 AM

Awal Revolusi Perancis pada sekitar tahun 1789, yang menjadi titik akhir kekuasaan feodalisme di Perancis telah berpengaruh pada perkembangan kebudayaan di dunia. Revolusi Perancis tidak hanya merupakan perubahan tata politik, tata sosial, tetapi juga berpengaruh pada bidang kesenian. Salah satunya yaitu pengaruh raja atas perkembangan seni telah berakhir. Hal lain yang juga menguatkan ialah pengaruh gereja terhadap proses penciptaan seni telah melemah. Hubungan gereja dengan seniman tidak lagi terjalin kuat. Di samping itu, muncul pengelompokan dalam kehidupan budaya yaitu kelompok seniman, industriawan, ilmuwan, pekerja dan buruh pabrik. 


Kelompok seniman sedikit demi sedikit menciptakan karya semata-mata memperturutkan panggilan hatinya masing-masing, melukis bukan karena pesanan atau order, melainkan karena ingin melukis. Maka timbul adanya kekuatan pribadi-pribadi seniman (semacam proses individualisasi dan isolasi diri) dalam berkarya seni. Dengan demikian riwayat seni rupa modern dalam sejarah telah tampak tanda-tandanya pada masa ini.

Jacques Louis David (1748-1825) adalah pelukis neoklasik yang tekun mengikuti kaidah akademisme yang bersumber pada kesenian (kebudayaan) klasik dengan beberapa pembaruan, terutama dalam tema dan estetika. Tema seni tidak lagi sepenuhnya berdasarkan pesanan penguasa, walaupun kaidah klasik yang sangat teknis tetap merupakan tali belenggu terhadap kebebasan seniman.

Neoklasik ini muncul mereaksi terhadap fenomena seni Barok/Rokoko dan menganggap bahwa seni Barok/Rokoko itu sudah menyimpang dari kaidah seni klasik, dengan sebutan jelek (ugly) dan penurunan nilai (dekaden). Maka Neoklasik berkeinginan untuk mengembalikan dan memurnikan ideal klasik, dengan mempelajari, menggali, dan mengembangkan kaidah-kaidah kuno Yunani dan Romawi klasik. Bahkan setelah penggalian dua kota kuno Pompeii dan Herculanum, upaya pengkajian seni klasik semakin gencar.


Baca Juga: Latar Belakang Sejarah Seni Rupa Barat

Neoklasik menggunakan pendekatan intelektual dalam berkarya, dan hal ini dipertahankan oleh David beserta pengikutnya. Bahkan David sempat mendirikan akademi untuk membina dan mengembangkan tradisi seni (klasik). Karya David, teman, dan muridnya memperlihatkan corak teknik, estetika, dan tema yang memperlihatkan kesamaan gaya dan konsistensinya pada kaidah klasik. Para kritikus seni abad ke-20 menyebutnya sebagai karya seni yang kaku, dingin, dan terlalu formal. Maka pantaslah jika seni neoklasik yang sudah bertahan puluhan tahun di Perancis dan sekitarnya ini akhirnya ditentang pula oleh Romantisme. Kaum Romantisme menentang Neoklasik dengan berbagai alasan, yaitu :
1) Neoklasik terlalu rasional dalam berkarya;
2)N eoklasik menampilkan tema-tema cerita klasik sebagai cermin kehidupan bangsawan;
3) Neoklasik tidak menonjolkan peranan unsur pribadi.
Sedangkan kaum Romantisisme justru sebaliknya :
1) Romantisisme berkarya melalui pendekatan emosional;
2) Romantisisme lebih banyak menampilkan tema-tema kehidupan dunia misteri, cerita roman, tema yang eksotik (cerita dari negeri China, Islam, Afrika);
3) Romantisisme menonjolkan peranan perasaan pribadi seniman, misalnya dalam segi komposisi yang dinamis (diagonal) dan unsur warna dengan gelap terang yang didramatisir.

Romantisisme
Pendirian akademi pada masa Neoklasisisme bertujuan untuk meneruskan dan mempertahankan tradisi klasik dan sekaligus sebagai pusat kegiatan seni istana. Gaya seni akademi ini selanjutnya diteruskan oleh seni Romantisisme, sehingga sangat wajar jika kedua gaya seni ini (Neoklasisisme dan Romantissme) dinamakan seni akademisme. Hal ini akan menjadi ciri perkembangan seni Perancis di abad ke-18 dan ke-19.



Romantisisme berasal dari kata Perancis, ―roman‖ (cerita), dan memang dalam gaya Romantisisme juga mencerminkan adanya pengaruh sastra roman Perancis. Terutama dalam melukiskan cerita-cerita tragedi yang dasyat, kejadian dramatis yang mencekam.

Romantisisme merupakan gerakan yang meneruskan Neoklasisisme tetapi sekaligus mereaksi dan menentang klasisisme. Pelopor gerakan Romantisisme adalah Theodore Gericault (1791-1824) dengan salah satu karyanya yang terkenal Rakit Medusa‖ (1818). Sebagai kelanjutan, Romantisisme tetap merupakan gerakan seni yang lari dari kenyataan hidup, menggarap dunia yang ideal dan misterius dengan menggunakan teknik-teknik akademisme yang rasional.

Perbedaan dasar antara Neoklasisisme dan Romantisisme adalah:
a. Orientasi seni Neoklasisisme pada seni klasik yang serba rasional, sedangkan Romantisisme pada dunia misteri yang baru yang terungkap dari cerita-cerita roman yang emosional dan imajinatif, cerita-cerita dari China, Islam, dan Afrika (eksotisme).
b. Tema seni dalam Neoklasisisme bersumber pada cerita-cerita klasik yang mencerminkan kehidupan para bangsawan, sedangkan tema Romantisisme pada cerita roman dengan kejadian-kejadian yang dramatis mengharukan.
c. Seni Neoklasisisme tidak menonjolkan peranan unsur peibadi, sedangkan Romantisisme justru menonjolkan perasaan pribadi (emosional).

Jika dikaji secara mendalam, karya seni Romantisisme memiliki ciri-ciri khasnya sebagai berikut:
a. Komposisi lukisan tidak statis, tetapi komposisi yang mengungkapkan kesan dramatik, misalnya dengan komposisi diagonal.
b. Unsur warna dan gelap terang ditonjolkan untuk mencapai kesan dramatiknya.
 
Pelukis yang terkenal dengan menampilkan ciri-ciri tersebut ialah Delacroix (1798-1863). Jiwa Romantisnya tampak pada kebiasaan hidup berpetualang (bohemianisme), meskipun ia sukses dalam lingkungan salon. Ia pemuja pelukis Rubens dan Michelangelo (dari periode Renesan). Karya-karya Delacroix yang terkenal di antaranya ―Pembunuhan besar-besaran di Scio‖ (1824), ―Perburuan Senja‖, dan ―Perampokan Rebecca‖.

Baca Juga: Seni Rupa Zaman Abad Pertengahan

Pengaruh Romantisisme pernah dialami oleh pelopor seni lukis baru Indonesia yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman yang memperoleh pengalaman seni Romantisisme di Eropa.

Neoklasisisme dan Romantisisme adalah dua gerakan dan sekaligus dua aliran (gaya) yang bertentangan. Pertentangan tersebut pada dasarnya tidak lepas dari misi dan visi terhadap seni. Jika dikaji secara mendalam, keduanya masih tetap mempertahankan citra akademisme yang bersumber pada kaidah teknis seni klasik. Keduanya berkarya dengan misteri, dan ikatan tradisi, hingga muncul reaksi berikutnya dari kaum Realisme.

Saat ini 0 comments :