Tari Legong - Tarian Klasik Asal Bali

Saturday, November 29, 2014 : 1:46:00 AM

Tarian Tradisional Indonesia - Legong yaitu tarian klasik berasal dari pulau dewata Bali yang mempunyai pembendaharaan gerak yang amat kompleks yang terikat dengan susunan tabuh pengiring yang konon adalah pengaruh dari gambuh. Makna kata Legong berasal dari kata " leg " berarti gerakan tari yang luwes (lentur) dan kata " gong " mempunyai makna alat musik gamelan. Hingga kata " Legong " mempunyai makna gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh alat musik gamelan yang menyertainya. Alat musik gamelan yang dipakai untuk mengiringi tari legong diberi nama Gamelan Semar Pagulingan.

Tari Legong

Tari Legong Pulau Bali

Pada perkembangannya lalu disebut Legong Kraton. Tarian ini umumnya dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan Cenderung (penari tambahan) juga sebagai pembukaan tarian. Tetapi biasa juga tari Legong ini dibawakan satu atau dua gunakan penari tanpa ada menghadirkan tokoh Cenderung lebih dulu. Ciri khas tari Legong ini yaitu penggunaan kipas beberapa penarinya terkecuali yang bertindak juga sebagai Cenderung.


Sejarah Tari Legong
Tari Legong dulu di kembangkan di keraton-keraton Bali pada era ke-19 paruh ke-2. Idenya dimulai dari seorang pangeran dari Sukawati yang tengah sakit keras punya mimpi lihat dua gadis menari dengan lemah gemulai diiringi oleh gamelan yang indah. Saat sang pangeran sembuh dari sakitnya, mimpinya itu dituangkan dalam repertoar tarian dengan gamelan lengkap.

Sesuai dengan sejarahnya, beberapa penari legong yang baku yaitu dua orang gadis yang belum memperoleh menstruasi, ditarikan dibawah cahaya bln. purnama di halaman keraton. Ke-2 penari ini, dimaksud legong serta senantiasa dilengkapi dengan kipas juga sebagai alat bantu. Pada sebagian tari legong ada seseorang penari penambahan, dimaksud condong, yg tidak dilengkapi dengan kipas.

Susunan tarinya biasanya terbagi dalam papeson, pangawak, pengecet, serta pakaad. Terdapat kurang lebih 18 tari legong yang di kembangkan di selatan Bali, seperti Gianyar (Saba, Bedulu, Pejeng, Peliatan), Badung (Binoh serta Kuta), Denpasar (Kelandis), serta Tabanan (Tista).

Legong Lasem (Kraton)
Tari Legong jenis ini yang paling popular. Tari ini di kembangkan di Peliatan. Tarian yang baku ditarikan oleh dua orang legong serta seseorang cenderung. Cenderung tampak pertama kali, lantas menyusul dua legong yang menarikan legong lasem. Repertoar dengan tiga penari di kenal juga sebagai Legong Kraton. Tari ini mengambil dasar dari cabang cerita Panji (era ke-12 serta ke-13, saat Kerajaan Kadiri.

Legong Jobog
Tarian ini dibawakan oleh sepasang legong. Serta cerita tarian legong jobog di ambil dari cerita Ramayana, perihal persaingan dua bersaudara Sugriwa serta Subali (Kuntir dan Jobog) yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.

Legong Legod Bawa, Tari ini mengambil cerita dari persaingan Dewa Brahma serta Dewa Wisnu ketika mencari rahasia lingga Dewa Syiwa. dan Legong Kuntul, Legong ini menceritakan sebagian ekor burung kuntul yang asik bercengkerama. Legong Smaradahana atau Legong Sudarsana jenis tari Legong ini mengambil cerita narasi sejenis sudarsana (Calonarang).

Banyak daerah memiliki legong yang khas. Di Desa Tista (Tabanan) ada type Legong yang diberi nama Andir (Nandir). Di pura Pajegan Agung (Ketewel) ada juga tari legong yang menggunakan topeng diberi nama Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

Alat musik gamelan yang digunakan menemani tari Legong diberi nama Gamelan Semar Pagulingan. Lakon atau narasi yang umum digunakan dalam Legong ini kebayakan bersumber pada narasi Malat terutama cerita Prabu Lasem, cerita Kuntir serta Jobog (cerita Subali Sugriwa),Legod Bawa (cerita Brahma Wisnu ketika mencari ujung serta pangkal Lingganya Siwa), Kuntul (cerita burung), Sudarsana (sejenis Calonarang), Palayon, Chandrakanta serta lain sebagainya. Sumber: Kebudayaan Indonesia

Saat ini 0 comments :