Tari Cokek - Pertunjukan Khas Masyarakat Betawi

Saturday, November 29, 2014 : 1:05:00 AM

Berada di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, menyebabkan warga Betawi memiliki banyak tradisi dan budaya yang merupakan hasil akluturasi budaya dengan bangsa luar. Bukti adanya pengaruh dari budaya luar itu di antaranya adalah Tari Cokek.

Tari Cokek
Tari Cokek merupakan tarian yang berasal dari budaya Betawi. Selain Betawi, tari ini juga seringkali dijumpai di kawasan Tangerang. Sebab, tari ini merupakan hasil gesekan budaya Betawi, Banten, dan Cina. Tari Cokek sudah ada sejak abad 19 di daerah Teluknaga, Tangerang yang dibawa oleh saudagar Cina yang bernama Tan Sio Kek.

Saudagar tersebut juga membawa alat musik Rebab Dua Dawai, yang kemudian dikolaborasikan dengan alat musik setempat, semisal suling, kempul, gong, kecrek, dan kendang. Lantunan tembang perpaduan tradisi daratan Cina dan Tangerang tersebut dinamakan Gambang Kromong. 

Awal kemunculannya, Tari Cokek dimainkan oleh tiga penari perempuan. Sekarang, pertunjukan Tari Cokek seringkali dimainkan oleh lima hingga hingga orang penari perempuan dan beberapa orang laki laki sebagai pemain musik yang sebagian ikut mengiringi tarian wanita. Sehelai selendang yang terikat di pinggang penari perempuan merupakan salah satu ornamen baju utama para penari wanita dipadu kebaya warna mencolok. Selendang tersebut bernama cokek. 

Sekilas, Tari Cokek mirip Sintren dari Cirebon atau sejenis Ronggeng di Jawa Tengah di mana para penari memiliki kewenangan untuk mengajak penonton ikut menari. Tetapi, salah satu bagian menarik dari Tarian Cokek ialah iringan musik Gambang Kromong.

Baru-baru ini, Tari Cokek sudah jarang dipertunjukan di kawasan Betawi. Tetapi di daerah Benteng, Tangerang, Tari Cokek masih bisa dijumpai jika ada masyarakat yang menggelar pesta.  Tari Cokek biasa diletakan di awal rangkaian acara. Jika pertunjukan Cokek diselenggarakan untuk acara pernikahan, penari Cokek biasanya mengajak pengantin lelaki atau beberapa orang tamu undangan untuk menari bersama. Ketika diselenggarakan untuk menyambut tamu kehormatan, pejabat setempat dan tamu kehormatan itulah yang mendapat kesempatan pertama menari bersama penari Cokek.

Tanda ajakan dari penari yakni sehelai selendang yang dikalungkan ke leher para tamu. Masyarakat beranggapan, jika sehelai selendang dari penari Cokek telah dikalungkan, pantang bagi tamu itu ataupun siapa saja untuk menolak. Penolakan itu diyakini dapat mencemarkan nama baik mereka sendiri. Biasanya, para tamu itulah yang nantinya menari bersama para penari Cokek hingga pertunjukan tari Cokek usai. Sumber: Kebudayaan Indonesia

Saat ini 0 comments :