Seni Batik Indonesia

Friday, July 25, 2014 : 9:08:00 PM

PENDAHULUAN

Batik adalah karya seni rupa yang berupa gambar pada bahan tertentu (kain, kayu dll) yang dalam proses pembuatannya dengan menggunakan teknik tutup celup sehingga membentuk corak dan motif yang menarik 

Secara sederhana, batik didefinisikan sebagai kain bercorak khusus yang dibuat dengan teknik pencelupan dan penggunaan malam (wax) sebagai perintangwarna. Dari bahasa apa ‘batik’ berasal, dan sejak kapan batik mulai dikenal di Indonesia, tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Relief tokoh-tokoh yang terpahat di candicandi Hindu dan Buddha di Jawa yang dibangun abad ke-8, misalnya, sudah mengenakan kain dengan hiasan motif-motif yang mirip dengan motif-motif batik klasik.

Namun sebagian ahli berpendapat, batik baru benar benar berkembang pesat di masa pemerintahan Sultan Agung (1613- 1645), raja terbesar Kerajaan Mataram Islam. Hal ini terkait dengan ambisinya untuk menyatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaannya, dan mengangkat segala sesuatu yang berbau Jawa, yang dianggap mempunyai kebudayaan tinggi. Seni Batik termasuk di dalamnya. Meski, dimasa itu dan di abad berikutnya, penggunaan batik masih terbatas dilingkungan keraton, dengan motif-motif yang terbatas, serta dengan berbagai aturan penggunaan dan larangan bagi masyarakat umum untuk memakainya.


Ditemukannya canting dan cap tembaga pada abad ke-19, bocornya teknik pembuatan batik ke luar tembok keraton, banyaknya migrasi orang-orang China ke daerah pesisir utara Jawa, serta peran para wanita Belanda yang tertarik untuk mengembangkan batik dari segi motif maupun bisnisnya, berdampak pada munculnya sentra-sentra batik baru. Kalau semula batik hanya ‘dikuasai’ oleh Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta yang letaknya relatif di pedalaman, maka interaksi para pedagang lokal dengan para imigran China maupun kaum elite Belanda -yang waktu itu menjajah Indonesiamemunculkan batik Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban, dan Sumenep (Madura). Kesemuanya merupakan kota-kota di pesisir utara Pulau Jawa.

Hal ini juga berdampak pada makin berkembangnya motif-motif dan warna batik. Jika batik keraton mempunyai motif-motif yang kaku dan warna yang terbatas seperti cokelat muda, cokelat tua, ungu, hitam, maka batik pesisiran ini mempunyai motif-motif yang bebas dan warna-warna yang lebih kaya dan ceria, misalnya hijau, biru muda, oranye, dan merah, dikombinasikan dengan warna-warna yang sudah ada.

Berkembangnya batik peranakan Tionghoa, Batik Belanda (1840-1940), batik Jawa Hokokai (1943-1945) di masa penjajahan Jepang, ikut memberi warna pada perkembangan batik. Terlebih ketika tahun 1950, Ir. Soekarno, presiden pertama Indonesia, mencanangkan batik sebagai busana nasional, batik pun berkembang menuju era modern, dan semua orang mulai bisa memakainya.

Sejarah batik yang panjang, mutunya yang tinggi, serta keunikannya yang khas Indonesia itulah yang kemudian membuat UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu mengukuhkan Seni Batik sebagai warisan budaya Indonesia. Imbas pengakuan ini adalah popularitas batik yang makin meningkat, dan makin bergairahnya industri batik, yang umumnya dikerjakan oleh rumahtangga, industri kecil, dan industri menengah. Tak hanya di Jawa, batik-batik dari berbagai daerah seperti Lampung, Palembang, Banjarmasin, Sumbawa, hingga Papua pun bermunculan, dengan mengangkat motif-motif lokal yang tak kalah eksotik.

Namun berdasarkan perkembangan sejarah, batik lebih dikenal sebagai karya seni rupa kriya nusantara yang dibuat pada kain dengan bahan lilin dan pewarna (naptol) yang proses pembuatannya menggunakan alat berupa canting dengan teknik tutup celup yang sekarang dinamakan sebagai batik tradisional (batik tulis).

Macam macam batik:
  • Batik Celup Ikat adalah batik yang paling sederhana, proses pembuatannya cukup diikat dan dicelup warna 
  • Batik Tulis adalah batik yang dibuat pada kain dengan bahan lilin dan pewarna (naptol) yang proses pembuatannya menggunakan alat berupa canting dengan teknik tutup celup 
  • Batik Cap adalah batik yang dalam pembuatan gambar menggunakan cap batik berwujud seperti stempel bergambar motif batik 
  • Batik printing adalah kain yang dicetak/diprint bergambar motif batik (Batik Bukan Batik)
Motif yang dipakai dalam batik terbagi menjadi:
  1. Motif geometris 
  2. Motif non geometris
Perbedaan motif geometris dan non geometris adalah 





Motif Geometris


Motif Non Geometris

1. Motif menggunakan ukuran yang pasti 
1. Tidak menggunakan ukuran tertentu
2. Pengulangan bentuk motif, contoh : bentuk      kubus, bentuk lingkaran, segi tiga 
2. Bentuk motif tidak beraturan atu berfariasi. Contoh : motif sekar jagad (terdiri dari kombinasi berbagai motif) 

Contoh motif  batik geometris

1.   Motif kawung

2.   Motif Ceplok
3.   Motif Parang
4.   Motif Truntum, dll

Contoh motif  batik non geometris

1.   Motif semen

2.   Motif Sekar Jaga
3.   Motif Wahyu Truntum
4.   Motif Leng – lengan
5.   Motif Boketan, dll
       a). Membatik  dengan pastel

Prinsip kerja batik adalah menghalang halangi warna agar  tidak meresap pada bahan yang akan dibatik, sebelum mempelajari lebih lanjut tentang batik perlu mengetahui dahulu sistem kerjanya. Untuk itu latihan membatik dengan media pastel  adalah latihan yang paling sederhana dan paling mudah dilakukan

Bahan dan alat yang digunakan adalah kertas gambar, pensil, pastel, cat air/tinta, palet dan kuas, Langkah langkah pembuatannya adalah sebagi berikut :

 Membuat sket desain pada kertas gambar dengan pensil
 Mewarnai sket desain menggunakan pastel dengan tebal dan padat agar tidak tertembus cat
 Bila pewarnaan telah selesai maka kuas atau semprotkan cat air atau tinta ke atas kertas secara merata. Bagian warna pastel tidak terkena cat karena pastel mengandung minyaak yang anti airUntuk memperjelas motif jika menggunakan warna pastel terang atau warna muda catnya menggunakan warna gelap demikian juga sebaliknya jika warna pastelnya gelap menggunakan cat air yang warna terang

 b). Batik Celup Ikat

Batik Celup Ikat adalah batik yang paling sederhana, proses pembuatannya cukup diikat dan dicelup warna, fungsi ikatan adalah untuk menghalang halangi agar warna tidak masuk pada kain. Bahan yang dipakai adalah

1.  Kain mori
2.  Pewarna tekstil (napthol batik)

Alat yang dipakai adalah

1.  karet atau tali pengikat
2.  Jepitan pakaian
3.  Bak atau ember untuk mewarna

Macam macam teknik pembuatan batik celup ikat :

    Tie/Ikat dengan cara mengikat kain, didalamnya bisa diisi kelereng atau kerikil atau benda lain yang kecil. Teknik ini menghasilkan bentuk lingkaran
    Stitch/jahit jelujur menghasilkan bentuk garis
    Fold/simpul dengan cara menggulung kain atau melipat kain kemudian mengikatnya dengan tali
    Marbling dengan cara membentuk kain seperti bola atau kelereng kemudian diikat dengan tali menyilang
    Press dengan cara menlipat kain dan menjepinya dengan jepitan jemuran
    Knot./kancing yaitu teknik tie tetapi pengikatnya menggunakan kain itu sendiri
    Pleat/lipat yaitu dengan cara melipat lipar kain

Teknik pewarnaan batik celup ikat adalah :

    Dye yaitu dengan cara dicelup pada pewarna
    Colet yaitu dengan disiram atau disemprot
    Tabur yaitu gabungan dye dan colet

  c).BATIK TULIS

Batik Tulis adalah batik yang dalam proses pembuatannya menggunakan alat bernama canting yang berfungsi untuk menulis/melukis  pada media batik

ALAT ALAT BATIK TULIS

 Wajan kecil : adalah tempat yang digunakan untuk melelehkan lilin/malam berbahan alumunium, baja atau besi bekas   dengan ukuran kurang lebih 20 cm
 Kompor/Anglo : digunakan untuk memanasi wajan, kompor batik berukuran kecil dengan sumbu 4 atau 6 agar    api menyala  kecil
 Canting : yaitu alat untuk membatik/menuangkan malam pada kain terbuat dari lembaran kuningan atau tembaga yang dibentuk menyerupai mangkuk dan diberi pipa kecil pada ujungnya, tangkainya terbuat dari kayu

Macam macam canting :

 Canting pola/klowong digunakan untuk membuat pola sesuai motif
 Canting isen-isen/ceceg digunakan untuk mengisi bagian-bagian dengan motif titik-titik
 Canting popok/tembok digunakan untuk menutup bagian motif apabila menghendaki   warna  lebih   dari satu
 Gawangan : adalah tempat untuk membentangkan kain jika kain yang dibatik lebar, terbuat dari kayu atau bambu tinggi kurang lebih 75 cm dan panjangnya 125 cm
 Kerokan : untuk mengupas lilin/malam yang tidak dikehendaki warna
 Dandang/panci : adalah tempat untuk merebus air saat melorod kain terbuat dari tembaga atau alumunium
 Sarung tangan : untuk pengamanan tangan pada saat proses pewarnaan
 Kayu jemuran : untuk menjemur  pada proses penjemuran
 Ember cuci : digunakan untuk proses pewarnaan dan pencucian kain batik
 Celemek : untuk alas agar malam tidak menetes di pakaian, untuk mencoba panas tidaknya malam dan untuk membersihkan sisi bawah canting
 Tempat duduk kecil/dingklik : digunakan untuk duduk saat membatik
 Solet : adalah alat untuk mengaduk larutan pewarna dan untuk membantu proses nglorod, terbuat dari kayu 40 cm
 Gelas Ukur : digunakan untuk mengukur isi bahan bahan warna
 Jegul : adalah alat untuk mewarna colet terbuat dari bambu, rotan atau kayu
 Spanram : adalah alat untuk merentangkan kain yang akan diwarna colet, terbuat dari kayu lunak sehingga mudah dipines, berbentuk seperti biingkai
 Kuas : adalah alat untuk melukis malam pada kain, fungsinya sama dengan canting


BAHAN BATIK

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam membuat batik antara lain:

a. Malam/wax/lilin

Malam merupakan bahan yang sangat berperan sekali dalam membuat batik. Sebelum digunakan membatik malam berbentuk padat setelah ditaruh dalam wajan dan dipanasi dengan kompor maka malam tersebut akan mencair. Konsentrasi cairan malam harus dijaga dengan cara mengatur besar kecilnya api kompor.

Malam memiliki beberapa jenis yang diantaranya yang biasanya dipakai adalah

 Lilin Klowong yaitu lilin yang biasanya dipakai untuk ngengrengi berwarna coklat dengan daya rekat yang bagus
 Lilin Tembokan yaitu lilin untuk nembok atau ngeblok, lilin berwarna kuning gelap atau coklat
  Parafin yaitu lilin yang biasanya menimbulkan efek pecah berwarna putih dll

b. Kain Mori


Untuk batik tulis kain yang digunakan sebagai media tulis dan lukis dalam membatik menggunakan kain mori yang bahan dasarnya 100% dari kapas (kain mori katun). Beberapa alasan pengrajin menggunakan kain mori diantaranya:


 Kain mori ini tergolong kain yang cukup tipis, jika dibatili akan tembus atau batiknya akan terlihat jelas sehingga mudah untuk di terusi.
 Memiliki penyerapan terhadap zat warna sangat bagus. Selain itu sangat mudah didapat sebab banyak terdapat dipasaran.
 Bila kain mori tidak 100% kapas, atau bercampur bahan lain seperti nylon, biasanya kalau terkena malam panas akan mengkerut, selain itu tidak dapat menyerap zat warna dengan sempurna.

Macam macam kain mori:

    Primisima yaitu kain yang sangat halus untuk kain batik alusan
    Prima yaitu kain halus no 2 untuk kain batik dan cap
    Biru (medium) yaitu kain yang sedang / agak kasar berwarna putih kebiruan untuk bahan sandang
    Blacu yaitu kain yang kasar untuk sandang kasar berwarna agak kecoklatan
    Birkolin yaitu kain yang halus dan kuat untuk batik lukis

c. Zat Pewarna

Yaitu zat yang dipergunakan untuk mewarnai kain batik, zat pewarna ini dibedakan atas zat pewarna buatan/sintetis (hasil proses kimiawi) dan zat pewarna alami (dari tumbuh – tumbuhan)

d. Langkah-langkah dalam membatik:

1)   Ngloyor (membersihkan kain hingga bersih kemudian di setrika)
2)   Ngengreng (membuat pola gambar pada kain baik depan maupun belakang permukaan kain)
3)   Nembok (pola-pola ditutup dengan canting yang diisi dengan lilin cair )
4) Pewarnaan (pola yang sudah tertutup lilin di celupkan kedalam pewarna, kemudian dikeringkan)
5)  Nglorod (kain dimasukkan kedalam air mendidih hingga lilinnya menghilang, kemudian dicuci bersih dan disetrika hingga rapi)










BATIK TULIS KLASIK, SEMI KLASIK DAN KONTEMPORER/MODERN

Batik tulis klasik adalah batik tulis yang pada masa dahulu pernah mengalami masa kejayaan kemudian menurun seiring kemajuan zaman. Ciri batik tulis klasik adalah : menggunakan bahan dan alat yang sederhana ( menggunakan anglo, pewarna alam) motifnya penuh makna, biasanya menggunakan warna biru, coklat dan putih, harga mahal 

Batik tulis semi klasik adalah batik yang telah mengalami perubahan/kemajuan dalam bahan, alat, proses pembuatan dan  motifnya namun tidak meninggalkan ciri khas batik  misalnya : menggunakan kompor minyak, menggunakan pewarna kimia, motifnya ada yang mempunyai makna atau tidak, warnanya bermacam macam, harganya tidak terlalu mahal. Contoh batik semi klasik adalah batik cap 

Pada awalnya hanya terdapat batik tulis yang dikerjakan oleh para pengrajin wanita menggunakan canting. Sekitar pertengahan abad ke-19, “canting cap” (biasanya disebut hanya“cap” saja) mulai dikembangkan. 

Canting cap merupakan sebuah alat berbentuk semacam stempel besar yang telah digambar pola batik. Pada umumnya pola pada canting cap ini dibentuk dari bahan dasar tembaga, tetapi ada pula yang dikombinasikan dengan besi. Dari jenis produksi batik cap ini, pembatik bisa menghemat tenaga, dan tak perlu menggambar pola atau desain di atas kain. 

Batik cap juga mengalami pekembangan, dengan dikenalnya cap kayu. Cap yang terbuat dari kayu ini lebih ekonomis dan lebih mudah pembuatannnya. Pola pada kayu diukir dan dibentuk seperti stempel sama halnya dengan cap tembaga. Batik menggunakan cap kayu ini dapat dibedakan dari cap tembaga karena kayu tidak menghantarkan panas sebaik tembaga sehingga malam (lilin) yang menempel pada kayu lebih tipis, dan hasil pengecapannya yang terbentukpun memiliki kekhasan tersendiri, biasanya terdapat sedikit warna yang meresap pada batik karena lilin yang menempel terlalu tipis, sehingga terlihat gradasi warna pada pola antara pinggir motif dan tengahnya. 

Batik remukan adalah proses pembuatan batik dengan memecahkan malam jenis parafin pada pola batik yang telah kering, sehingga pada proses pencelupan warnanya meresap pada retakan malam yang telah terbentuk. 

Batik kontemporer/modern adalah batik yang telah mengalami perubahan/kemajuan dalam bahan, alat, proses pembuatan dan  motifnya misalnya : tidak ada proses penutupan kain dengan malam,menggunakan mesin pencetak baik manual/modern, menggunakan pewarna kimia, motifnya ada yang mempunyai makna atau tidak sangat beragam, warnanya bermacam macam, harganya lebih murah. Misalnya batik printing.

Batik print merupakan salah satu jenis batik yang baru muncul. Tidak diketahui pasti kapan mulai dikenal, tetapi kini menjadi produksi batik dengan jumlah paling banyak jika dibanding batik cap apalagi batik tulis. 

Teknik pembuatan batik print relatif sama dengan produksi sablon, yaitu menggunakan klise(kassa) untuk mencetak motif batik di atas kain. proses pewarnaannya sama dengan proses pembuatan tekstil biasa yaitu dengan menggunakan pasta yang telah dicampur pewarna sesuai keinginan, kemudian diprintkan sesuai motif yang telah dibuat. Jenis batik ini dapat diproduksi dalam jumlah besar karena tidak melalui proses penempelan lilin dan pencelupan seperti batik pada umumnya, hanya saja motif yang dibuat adalah motif batik. oleh karena itu batik print merupakan salah satu jenis batik yang fenomenal, kemunculannya dipertanyakan oleh beberapa seniman dan pengrajin batik karena dianggap merusak tatanan dalam seni batik, sehingga mereka lebih suka menyebutnya kain bermotif batik. 

Secara kasat mata kita dapat membedakan batik print dan batik tulis/cap dengan melihat permukaan di balik kain, biasanya kain batik print warnanya tidak meresap ke seluruh serat kain, dan hanya menempel pada permukaan kain, sehingga di balik kain masih terlihat sedikit berwarna putih. 

Belakangan muncul perkembangan baru pada batik print, dengan adanya metode print malam.Metode ini dapat dikatakan perpaduan antara sablon dan batik. pada print malam, materi yang di printkan pada kain adalah malam (lilin) dan bukan pasta seperti batik print konvensional. setelah malam menempel, kemudian kain tersebut melalui proses pencelupan seperti pembuatan batik pada umumnya

Saat ini 0 comments :