Seni Rupa Impresionisme dan Ciri-Ciri Lukisannya

Friday, January 22, 2016 : 1:49:00 AM

Istilah Impresionisme dipakai mulai tahun 1874 diarahkan kepada karya para pelukis Realisme Perancis. Istilah ini tercantum dalam judul lukisan Monet, yang dalam katalognya diberi judul "Impressionism, Rising Sun". Nama ini oleh seorang kritikus seni, Louis Leroy dipakai sebagai nama ejekan pameran (eksposisi) kaum Impresionisme. Pada akhir abad ke-19 istilah ini dipandang sebagai gerakan seni lukis modern.

Lukisan Impresionisme menampilan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Lukisan adalah pernyataan berdasarkan kebenaran penglihatan (kebenaran optik) dalam penggunaan warna dan cahaya. Atas dasar pengalaman, warna tidak memiliki arti simbolis dan idealisasi seperti dalam Klasisisme dan Rimantisisme (juga nanti dalam Simbolisme). Karena itu Impresionisme disebut juga sebagai aliran Realisme dalam Warna.
b. Pokok lukisan (subject-matter) tidak memegang peranan penting dalam arti mengaburkan pokok lukisan dengan latar belakang. Ini yang disebut devaluasi pokok lukisan.
c. Lukisan berdasarkan ilmu pengetahuan , yaitu pengetahuan tentang cahaya. Cahaya yang tampak putih dapat dibiarkan diuraikan (dibiaskan) melalui kaca prisma menjadi warna-warna pelangi (warna spektrum). Dalam Impresionisme tidak dikenal warna hitam, dan sebagai gantinya adalah warna biru, ungu, atau coklat.
d. Kecenderungan bentuk yang mengaburkan dalam Impresionisme disebabkan oleh karena cara memandang yang menyeluruh pada obyek. Akibatnya garis (kontur) tidak tampak sebagai pembatas bentuk.

Tanda-tanda bahwa Impresionisme memiliki ciri-ciri seni modern yaitu:
a. Karya seni yang tidak mengikatkan pada tradisi seni yang lampau atau yang berlaku.
b. Karya seni yang didukung oleh kebebasan dan pengalaman pribadi seniman, kebebasan berekspresi meskipun berdasarkan konsep Impresionisme.
c. Cita rasa seni yang tidak mengikatkan kepada bentuk yang ada di alam.
d. Karya seni yang didukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Para seniman Impresionisme yang pertama didukung dengan adanya kegiatan pameran lukisan dari pelukis Perancis seperti: Renaoir, Sisiley, Pissaro, Cezanne, Degas, Boudin, dan Morisot. Di antara mereka kemudian menjadi pelopor dari gerakan baru dalam seni lukis modern.

Beberapa seniman terkenal dari gaya Impresionisme ialah Monet (1840-1926). Monet sebagai pelukis luar studio (outdoor painting) tidak menonjolkan tokoh manusia dari latar belakang atau dengan jalan menggambarkan latar belakang. Lukisan tidak memperlihatkan bentuk yang jelas yang kemudian menjadi ciri dari gaya Impresionisme. Karya lukisnya antara lain: Dejeuner sur L'herbe (Makan di Rerumputan), Femmes au jardin (Wanita-wanita di Kebun), dan Kolam dengan Teratai.

Baca Juga: Latar Belakang Seni Neoklasisisme dan Romantisisme

Pelukis yang lain ialah Renoir (1841-1919). Renoir ialah pelukis yang gemar melukis wanita, karena menurutnya wanita memiliki wujud yang mengasyikkan . Ia melukis wanita dengan warna-warna menggairahkan, cemerlang, yang menjadi ciri Impresionisme. Karena biasa melukis di luar studio, dia melupakan komposisi formal, dan selanjutnya ia tidak lagi banyak berkreasi dalam melukis. Karya lukisnya antara lain: Bertelanjang di Bawah Matahari, Makan Siang di Pesta Perahu, dan Orang Mandi dengan Grifon.

Pelukis potret Impresionisme ialah Degas (1834-1917). Pelukis ini yang menampilkan perwatakan tokoh-tokoh yang memperlihatkan ciri-ciri Impresionisme. Karyanya sangat menonjol karena tema-tema penari Balet dengan kekuatan nilai gambarnya yang spontan dengan media pastel. Karyanya yang terkenal: Potret Seorang Gadis, Keluarga Balleli, dan Tarian (Foyer de la Danse).

Ada seorang pelukis cacat dari kelompok ini yaitu Henry de Toulouse Loutrec (1804-1901). Pelukis yang riwayat hidupnya penuh kegetiran, terutama disebabkan karena cacat fisiknya. Dia terkenal karena lukisannya, terutama potret, memeperlihatkan garis-garis yang tegas dan ekspresif, meskipun banyak pula melukis pertunjukan kabaret dengan gaya yang khas Impresionisme. Karya lukisnya yang terkenal antara lain: Au Moulin Rouge, dan Salon di Rue des Moulins.

Pengalaman empirik pelukis Impresionisme tentang kesan warna melahirkan teknik melukis dengan sapuan (totolan) kuas dengan warna murni yang berdekatan dalam bidang lukisan. Ada pembagian sistematik dari nada-nada warna yang dipelajari . Timbullah kesan baru pada lukisan Impresionisme yang disebut Neo Impresionisme. Sesuai dengan tekniknya juga disebut Pointilisme. Para pelukis yang termasuk dalam aliran ini antara lain:
a. Seurat (1859-1891)
b. Paul Signac (1863-1935)

Signac belajar teknik divisionisme dari Seurat yang menemukan teori warna berdasarkan campuran optis dari pigmen yang memberikan kesan membaur dari mata memandang. Gerakan divisionisme sangat berperan pada aliran Fauvisme, dan karya-karya seniman dari aliran itu masuk ke dalam Salon des Independants (1884).

Baca Juga: Awal Mula Munculnya Seni Rupa Realisme

Impresionisme pada umumnya tergolong gerakan yang antiklasik, sebab Impresionisme juga sebenarnya tidaklah berbeda dengan Realisme. Bahkan para ahli menyebutnya sebagai realisme warna atau realisme cahaya. Artinya bahwa Impresionisme tetap disebut sebagai Realisme, hanya dengan pewarnaan yang agak berbeda. Impresionisme menampilkan kekuatan warna sebagai pengganti sinar matahari yang dipantulkan oleh obyek dedaunan, pohon dan yang ada di alam. Tampak yang dilukiskan hanyalah kesan-kesan obyek saja, tanpa detail, tanpa outline (kontur).

Saat ini 0 comments :